Selasa, 02 Oktober 2012
ANTARA AKAL DAN WAHYU
Lagi-lagi ini adalah sisa diskusi dengan Pak Rumadi. Diskusi kami siang itu adalah masalah akal dan wahyu. Masalah “yang tekstual” dan “yang kontekstual”. Permasalahan yang muncul di antaranya; mana yang lebih punya otoritas antara wahyu dan akal? Akal dulu atau wahyu dulu? Kemudian masalah tekstual sering dipersepsikan sebagai yang tidak menggunakan akal dan tekstual sebagai yang menggunakan akal. Untuk menerangkan masalah-masaah ini, Pak Rumadi membuat beberapa kotak
Rabu, 26 September 2012
KAGUM PADA FAZLURRAHMAN
Melepaskan al-Qur’an pada posisi terlepas sama sekali dengan masa lalu (asbabun nuzul dan konteks sosio-historis) dan menempatkannya seolah-olah ia turun pada saat ini, saya yakin tidaklah tepat. Sebagian ayatnya boleh jadi berkata-kata sangat progresif dengan dimensi kekinian. Namun sebagaian yang lain boleh jadi tidak mengatakan apa-apa. Hal terakhir ini akan memaksa mufassir untuk memeras energinya dengan berbagai ta’wil agar
SETUJU DENGAN MAQASHID SYARI'AH
Maka aku saat ini rasanya setuju bahwa “tak ada“ hukum Allah dalam urusan mu’amalat. Maksudnya bahwa Allah telah memberikan akal untuk mendefinisikannya. Bukannya Allah memberikan ketentuan-ketentuan baku yang rigid dan absolut. Jadi, dalam masalah mu’amalat tak ada ayat yang
SOAL TAFSIR KLASIK
Maka jika penafsiran-penafsiran klasik itu dikatakan sebagai sesuatu yang belum final dan tentu saja tidak muthlak benar, maka demikian juga tafsir-tafsir kontemporer. Jadi, slogan “tidak muthlak benar” jangan digunakan hanya untuk menghujat orang lain saja. Diantara masing-masing semestinya tak boleh ada yang mengklaim “paling benar”. Maka dalam posisi ini,
PERILAKU QUR'ANI
Yang Santri kurasa bukannya yang fasih membaca al-Qur’an. Tapi mereka yang berprilaku Qur’ani. Bagaimana mungkin aku menghargai orang yang fasih membaca al-Qur’an, namun
Senin, 24 September 2012
LOGIKA PUBLIK HUKUM ISLAM
Penyudutan agama sebagai hanya wilayah privat jelas tak dapat diterima dan mengingkari sekian banyak ajaran Al-Qur’an. Hanya orang yang suka membebek, teralienasi kesadarannya atau orang yang tak pernah melihat ke dalam Al-Qur’an saja yang
PERJANJIAN PRIMORDIAL
Awalnya saya sungguh tak mengerti bahwa menurut Al-Qur’an manusia telah mengambil janji di hadapan Allah, mengakuiNya sebagai Rabb. Dengan kata lain, firman-firman Allah hanya sekedar meningatkan, dan manusia yang tidak taat adalah menyalahi janjiNya. Tapi bagaimana aku mengakui sesuatu yang aku sendiri sama sekali merasa tak melakukannya. Mati-matian aku berusaha
Langganan:
Postingan (Atom)







